Monday, November 10, 2008

ONCE UPON THE TIME IN TUGU PROKLAMASI

Rekan pernahkan mendengar tragedi semanggi, sepuluh tahun yang lalu tepatnya, peristiwa tersebut berkenaan dengan diadakanya sidang istimewa yang dilakukan pemerintahan transisi untuk membahas agenda-agenda pemerintahan berikutnya, peristiwa tersebut merupakan salah satu sejarah kelam yang pernah terjadi di bangsa ini, karena puluhan orang baik sipil maupun mahasiswa tewas,

Bagiku dan beberapa rekan yang ikut sepuluh tahun lalu,tentunya cukup membekas kenangan yang tak kan pernah terlupakan sepanjang hidupnya, memang tragedi tersebut terjadi tanggal 12 November, namun kami sudah merasakan sejak hari pertama sidang istimewa di buka (10-11-1998), situasi chaos dan tak terkendali, serasa malaikat izrail mengintai kami untuk diajaknya dipanggil ke haribaan Allah SWT,

ok mungkin akan kuceritakan bagaimana kronologi, apa yang kurasa dan kualami, diawali, ketika tanggal 9 November, kami berkumpul untuk menuju jakarta dengan menggunakan sekitar 3-5 bus, dengan satu tekad bergabung dengan mahasiswa seluruh Indonesia di Gedung MPR/DPR, dalam perjalanan aq jujur sudah merasa ada yang tidak beres, karena dalam perjalanan tersebut kita belum tahu mau transit dimana, kalo tidak salah sekitar tiga kali bus kami berhenti, pertama di wilayah kendal, cirebon, dan terakhir di tol masuk jakarta(kranji), singkat cerita akhirnya kami transit di Masjid Istiqlal,

di Mesjid Istiqlal, jujur hatiku semakin tidak enak,karena kami tidak tahu situasi apa yang terjadi saat itu di jakarta, namun ketika berkeliling di sekitar istiqlal, aq melihat banyak preman dengan bertuliskan asma Allah di Ikat kepala mereka dengan bau miras

selepas dhuhur, akhirnya kami diberangkatkan, dengan penuh semangat yang kami tahu menuju ke Gedung MPR/DPR, namun di perjalanan aq merasa juga ada yang gak beres, karena dibelakang truk ada beberapa orang berkacamata hitam menggunakan Jeep membawa HT, entah kenapa, truck yang kami tumpangi mengarah ke tugu proklamasi, ketika kami tepat sampai didepan tugu proklamasi, dari arah berlawan muncul ratusan orang serasa menggeruduk kami, akhirnya kami lari tunggang dan masuk ke tugu proklamasi,

setelah sadar, aq melihat sekeliling tugu proklamasi, rupanya kami terjebak di tengah kubu diarah jl.diponegoro, ada seklompok massa yang trus meneriak yel-yel provakatif, yang akhirnya ketahu kelompok tersebut di kenal sebagai KPM, sedangkan di di dalam tugu proklamasi ada sekolompok massa yang berikat kepala Asma ALLAH SWT, yang baru kutahu namanya PAM SWAKARSA, dan didalam tugu proklamasi sendiri setelah melakukan observasi singkat,akhirnya aq ketahui sesungguhnya yang dialam tugu proklamasi banyak yang tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi, rata-rata dari mereka adalah kelompok pengajian yang tersebar di jakarta, namun dibarisan terdepan, aq melihat sekelompok preman yang juga turut meneriakan yel-yel provokatif sambil membawa bambu runcing,

menjelang Ashar, suasana semakin mencekam, diiringi soundsytem yang keras, yang memperdengarkan senandung jihad, "Allahu Akbar..Allahu Akbar..Allahu Akbar, kalam suci menentukan ke berjuang, untuk agama dan keadilan, amar ma'ruf nahi munkar, Allahu Akbar..Allahu Akbar..Allahu Akbar, yel-yel semakin provokatif,dikedua belah pihak, diantara kami sudah ada yang menyiapkan peta untuk pelarian dan mungkin tempat2 untuk berkumpul ketika apabila terjadi bentrok, namun bagaimana mau lari kalau seluruh tugu proklamasi telah dikepung oleh massa,

sekitar jam 5, hatiku semakin was-was, ketika dengan teratur barisan tentara dan polisi, yang selama ini menjadi barikade agar kedua kelompok massa tidak bertemu, meninggalkan posnya, sebagian dari kami menatap dengan tatapan kosong dan nanar, akankah ini terakhir melihat dunia

akhirnya yang terjadi terjadilah, massa dari jl diponegoro menggereduk ke arah massa di dalam tugu proklamasi, suasana chaos tak terkendali, usaha provokatif yang dilakukan para preman tadi mungkin sengaja untuk membentrokan massa yang tidak tahu apa-apa, hingga magrib menjelang, dimana batu, bambu runcing silih berganti disekitar kami, beberapa orang terlihat digotong karena terluka, dan bahkan kami masih ingat, kami sholat maghrib sebelum waktunya, dikarenakan situasi yang chaos tersebut, mungkin diantara kami sudah demikian pasrah apabila malaikat izrail menjemput kami, setidaknya sebelum dijemput kami sudah lapor kepada Allah SWT, mungkin demikian dibenak kami

Hingga menjelang Isya, suasa semakin panas dan tak terkendali, hingga suasana sedikit cair, ketika kami ketahui , Alm MUnir (ketua kontras) datang menuju ke tengah tugu proklamasi untuk mengeluarkan kami para mahasiswa semarang, setelah negosiasi, akhirnya kami diangkut truck militer, dan kami bersepakat untuk pulang ke semarang, dan akhirnya kami tiba di Stasiun Senen, dengan wajah yang pucat, cape, dongkol, kecewa dan bersyukur karena kami masih selamat dan dapat berkumpul dengan teman-teman dan keluarga kami tercinta !

Bersambung...................










No comments: